Tag

,


Sondir disebut juga Dutch Deep Sounding Apparatus, yaitu suatu alat statis yang berasal dari Belanda. Ujung alat ini langsung ditekan ke dalam tanah. Pada ujung rangkaian pipa sondir ditempatkan alat conus yang berujung lancip dengan kemiringan kurang lebih 60. Pipa sondir dimasukkan ke dalam tanah dengan bantuan mesin sondir.  Ada 2 macam metode sondir :

1.   Standard Type (Mantel conus)

Yang diukur hanya perlawanan ujung (nilai conus) yang dilakukan dengan menekan conus ke bawah.  Seluruh tabung luar diam.  Gaya yang bekerja dapat dilihat pada manometer.

2.   Friction Sleeve (Addition Jacket Type/Biconus)

Nilai conus dan hambatan lekat keduanya diukur. Hal ini dilakukan dengan memakai stang dalam. Mula-mula hanya conus yang ditekan ke bawah, nilai conus diukur. Bila conus telah digerakkan sejauh 4 cm, maka dengan sendirinya ia mengait friction sleeve. Conus beserta friction sleeve ditekan bersama-sama sedalam 4 cm. Jadi nilai conus sama dan hambatan lekat didapat dengan mengurangkan besarnya conus dan nilai jumlah keseluruhan. Dalam percobaan ini metode friction sleeve yang dipakai.

Tujuan penyelidikan ini untuk mengetahui perlawanan penetrasi conus dan hambatan lekat tanah pada biconus. Perlawanan penetrasi conus adalah perlawanan terhadap ujung conus yang dinyatakan dalam gaya persatuan luas. Hambatan lekat adalah perlawanan terhadap mantel biconus yang dinyatakan dalam gaya persatuan panjang.

Alat-alat yang digunakan :

  1. Alat sondir (kerangka lengkap)
  2. Conus dan biconus
  3. Pipa sondir lengkap
  4. Angkur dan baut
  5. Besi kanal dan balok kayu
  6. Kunci-kunci perlengkapan

Gambar 1. Contoh Grafik Sondir

Langkah Kerja

Persiapan alat :

  1. Pada tanah yang diselidiki ditancapkan 3 buah angkur luar dengan cara diputar dengan stang pemutar searah jarum jam sambil ditekan agar dapat turun dan masuk ke dalam tanah.
  2. Balok tumpuan diletakan untuk mendukung alat sondir, kemudian alat sondir didirikan di atas balok sedemikian rupa sampai benar-benar tegak lurus.
  3. Besi kanal dipasang untuk menjepit kaki alat sondir dengan cara memasang baut pada angkur-angkur tersebut.
  4. Conus dan biconus dipasang pada pipa dan dikontrol sambungannya.
  5. Bila semua alat siap, maka stang pemutar diputar agar dapat menekan ujung conus ke dalam tanah.  Percobaan ini dimulai pada saat ujung conus menyentuh tanah (kedalaman 0 cm), selanjutnya dibaca pada kedalaman kelipatan 20 cm.
  6. Kunci dibuka dan stang diputar turun 4 cm dan diperoleh pembacaan nilai conus.
  7. Hubungan tangkai dilepaskan, kemudian stang pemutar diluruskan smpai kedalaman 4 cm lagi sehingga menghasilkan pembacaan nilai biconus.
  8. Kemudian tangkai conus dikaitkan lagi, yaitu pada posisi kunci dan ditekan kembali, maka mantel luar terikat, stang dalam akan ikut tertekan sampai kedalaman 40 cm.
  9. Mengulangi langkah 7 – 9 sampai nilai conus 250 kg/cm2.

Pembacaan Manometer : 

  1. Pada kedalaman 0 cm dibaca nilai conus dan biconus, stang diputar pada posisi kunci sehingga jarum tidak bergerak sampai kedalaman 20 cm, pemutaran stang dihentikan.
  2. Kunci dibuka dan stang diputar turun 4 cm sehingga stang dalam akan ditekan pada lubang yang menghubungkan dengan manometer, lalu dibaca pada manometer tersebut, angka ini adalah nilai conus.
  3. Hubungan tangkai dilepaskan lalu stang diputar lagi, pemutaran dilakukan sampai kedalaman bertambah 4 cm, baru angka pada manometer dibaca.  Angka ini menunjukan nilai biconus, yaitu nilai conus ditambah hambatan lekatnya.
  4. Tangkai conus dilekatkan lagi, yaitu pada posisi kunci dan ditekan lagi maka mantel luar berikut stang dalam akan ikut tertekan sampai kedalaman 40 cm.
  5. Setelah itu dibaca nilai conus dan biconusnya seperti cara di atas.  Pekerjaan ini dilakukan sampai jarum manometer menunjukan angka 250 kg/cm2.
  6. Memasukan hasil pembacaan ke dalam tabel dan akan diperoleh grafik hubungan antara kedalaman dan hambatan total.