Tag

, , , , ,


PENDAHULUAN

Concept Flood Management

Gambar 1.1 Kejadian Banjir di Perkotaan

Pendekatan PTSDA

Prinsip 1:

Perlunya pengembangan dan manajemen terpadu sumber daya air secara holistik atau ekologis, ekosistim sungai sebagai focus dan perlunya keterkaitan antar sektor.

Prinsip 2:

Pendekatan Partisipatif dengan cara melibatkan kesadaran bersama para pelaku, menggalang kemitraan dan mengefektifkan pengambilan keputusan maupun perencanaan pada tingkat lokal bahkan diusahakan pada tingkat paling bawah (grassroot level).

Prinsip 3:

Pentingnya peran perempuan yang seringkali memiliki peran sentral berurusan dengan kebutuhan air terutama di tingkat rumah tangga.

Prinsip 4:

Berkaitan dengan nilai ekonomis air yang perlu dilihat sebagai barang yang memiliki nilai sehingga perlu dihemat agar dapat terjangkau oleh masyarakat dan dikelola agar lestari berkelanjutan, oleh karena itu dalam pengembangan SDA diperlukan manajemen yang tepat guna.

Faktor Penyebab Banjir

Gambar 1.2 Siklus Hidrologi
  • Faktor hujan,
  • Faktor rusaknya retensi Daerah Aliran Sungai (DAS),
  • Faktor kesalahan perencanaan pembangunan sungai,
  • Faktor kedangkalan sungai,
  • Faktor kesalahan tata wilayah dan pembangunan sarana dan prasarana,
  • Faktor perilaku masyarakat.

Pendekatan Baru Pengendalian Banjir yang Berkelanjutan

  • Eko-Hidraulik merupakan salah satu upaya perpaduan yang melibatkan sejumlah disiplin ilmu yang mengkaji dan menjawab sejumlah persoalan terutama yang berkaitan dengan air.
  • Pendekatan Integralistik Ekologi dan Hidraulik, harmonis antara perilaku alamiah dan pembangunan dan kesatuan antara konservasi dan pembangunan:
    • Integralistik Ekologi dan Hidraulik
    • Harmonis antara Karakteristik Alamiah dan Pembangunan
    • Kesatuan antara konservasi dan pembangunan

Penanganan banjir dengan konsep Eko-hidraulik

  • DAS bagian hulu dengan reboisasi atau konservasi hutan untuk meningkatkan retensi dan tangkapan di hulu.
  • Selanjutnya reboisasi juga mengarah ke DAS bagian tengah dan hilir. Secara selektif membangun atau mengaktifkan situ atau embung alamiah di DAS yang bersangkutan.
  • Penataan tataguna lahan yang meminimalisir limpasan langsung dan mempertinggi retensi dan konservasi air di DAS.
  • Di sepanjang wilayah sungai serta sempadan sungai, tidak perlu diadakan pelurusan dan sudetan atau pembuatan tanggul. Karena caracara ini bertentangan dengan kunci utama retensi banjir.
  • Sungai yang bermeander justru dipertahankan sehingga dapat menyumbang retensi, mengurangi erosi dan meningkatkan konservasi.
  • Komponen retensi alamiah di wilayah sungai di sepanjang sempadan sungai dan badan sungai justru ditingkatkan, dengan cara menanami atau merenaturalisasi kembali sempadan sungai yang telah rusak.
  • Erosi tebing-tebing sungai harus ditangani dengan teknologi Eco-Engineering dengan menggunakan vegetasi setempat.
  • Memfungsikan daerah genangan atau polder alamiah di sepanjang sempadan sungai dari hulu sampai hilir untuk menampung air.
  • Mencari berbagai alternative untuk mengembangkan kolam konservasi alamiah di sepanjang sungai, di lokasi yang memungkinkan, di perkotaan-hunian atau di luar perkotaan, sebagai genangan alamiah yg berfungsi meretensi banjir tanpa menyebabkan banjir local karena banjir di bagi di DAS dan di sepanjang wilayah sungai.
  • Konsep drainasi konvensional yang mengalirkan air buangan secapatnya ke hilir perlu direvisi dengan mengalirkan secara alamiah (lambat) ke hilir, sehingga tidak menimbulkan banjir di hilir.
  • Di samping solusi eko-hidroteknis tersebut sangat diperlukan juga pendekatan sosio-hidraulik sebagai bagian dari eko-hidraulik dengan meningkatkan kesadaran masyarakat secara terus menerus akan peran mereka dalam mengatasi banjir.

Peningkatan Peran Serta Masyarakat

  • Dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat untuk ikut berperan serta menjaga kelestarian Sumber Daya Air dan lingkungan, perlu di upayakan beberapa kegiatan dengan nama Kampanye Peduli Air (KPA).


  • Tujuan dari kegiatan ini adalah :
    • Membangun perilaku masyarakat agar sadar akan nilai dan kegunaan air
    • Berupaya untuk memperbaiki perilaku masyarakat agar dapat lebih ramah hidup bersama air.

Banjir, Masalah Banjir dan Upaya Mengatasinya

2.1   Konsep Dasar Penanganan Masalah Banjir

 Pengertian yang berkaitan dengan Masalah Banjir

  1.  Sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh Garis Sempadan (GS)
  2. Daerah Pengaliran Sungai (DPS) adalah suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah  dimana air meresap dan/atau mengalir melalui sungai dan anak-anak sungai ybs. DPS sering disamakan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS)/Catchment Area/River basin
  3. Wilayah Sungai adalah kesatuan wilayah tata pengairansebagai hasil pengembangan satu atau lebih DPS
  4. Bantaran Sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai dihitung dari tepi sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam
  5. Garis Sempadan Sungai adalah garis batas luar pengamanan sungai
  6. Daerah Manfaat Sungai adalah mata air, palung sungai, dan daerah sempadan yang telah dibebaskan
  7. Daerah Penguasaan Sungai adalah dataran banjir, daerah retensi, bantaran atau daerah sempadan yang tidak dibebaskan.
  8. Dataran Banjir (“Flood Plain”) adalah lahan/dataran di kanan kiri sungai yang  sewaktu-waktu bisa tergenang banjir (+/- 50% wilayah DKI Jakarta berada  di dataran banjir 13sungai)
  9. Pengendalian Banjir (”Flood Control”) upaya struktur untuk debit banjir sampai  tingkat tertentu yang layak, dan bukan untuk debit banjir yang terbesar
  10. Penanggulangan Banjir.(”Flood Fighting”): salah satu kegiatan Satkorlak/Satlak Penaggulangan Bencana.
  11.  ”Flood Damage Mitigation”: upaya menekan besarnya bencana akibat  banjir.
  12. Flood Plain Management”: pembudidayaan dataran banjir (“flood plain”) sedemikian rupa sehingga genangan banjir yang kemungkinan terjadi menimbulkan masalah yang minimal.
  13.  “Flood Damage Management”: pengelolaan banjir sedemikian rupa agar dampak/kerugian yang ditimbulkannya minimal.

2.2    UPAYA PREVENTIF MENGATASI MASALAH BANJIR

Daya dukung lingkungan diupayakan seimbang dengan beban

  1. Tata ruang dan pembudidayaan dataran banjir disesuaikan dengan adanya kemungkinan/resiko tergenang banjir (Flood Plain Management) untuk diperlukan peta resiko banjir (Flood Risk Map) serta pembagian zona/klasifikasi lahan di dataran banjir (Flood Plan Zoning) yang disesuaikan dengan tingkat kerawanannya terhadap genangan banjir.
  2. Semua kegiatan dan pembangunan fisik yang berada di dataran banjir menyesuaikan dengan tataruang yang telah memperhatikan adanya resiko genangan banjir. Penyesuaian antara lain meliputi jenis peruntukan lahan, jenis/tipe bangunan, struktur bangunan, elevasi dasar bangunan, material bangunan, jenis dan varietas tanaman, dsb.
  3. Flood Proofing yang dilaksanakan oleh masyarakat/swasta secara mandiri untuk melindungi aset mereka baik secara individual maupun kolektif.
  4. Tata ruang dan seluruh kegiatan pembangunan dan pembudidayaan DAS yang menunjang konservasi air dan tanah antaralain dengan penghijauan dan reboisasi, terasering, sumur resapan, waduk/situ/kolam penampung air hujan (waduk retensi maupun waduk detensi).
  5. Prakiraan banjir dan peringantan dini kepada masyarakat yang tinggal di dataran banjir. Penetapan sempadan sungai yang diikuti dengan penegakan hukum dan pola hidup masyarakat yang mencintai lingkungan/sungai.